satu minggu yang lalu my sweet incredible friend roy diwisuda. dia yang selalu duduk di barisan belakang kelas aksel, dia yang selalu rusuh ketika guru mengajar. ya, dia yang dulu selalu mengesalkan tapi menggemaskan, yang menyimpan sejuta potensi yang pada akhirnya nanti akan dia berikan untuk negaranya tercinta.
roy itu kebalikan saya, dia punya visi untuk indonesia, dia tidak mengejar nilai seperti saya. dia tahu dimana kelebihan-kelebihan dirinya. yang terakhir ditulisnya adalah mengemukakan gagasan dalam tulisan, sebuah kelebihan yang saya yakin telah dia sadari sejak dulu.
saya tidak punya visi untuk indonesia
saya punya visi untuk menjadikan hidup saya sejahtera, yang kata sebagian orang adalah dengan mengembat uang negara yang dikucurkan untuk perusahaan asing
untuk mencapai visi saya itu, saya melakukan apa saja untuk mengejar nilai, saya mengambil mata kuliah yang sekarang ini saya bingung untuk apa saya ambil, mata kuliah yang akan membuat pipi saya bersemu merah kalau ada yang menanyakannya di wawancara kerja.
semester ini saya ingin kembali waras, berusaha membekali diri saya dengan ilmu-ilmu yang mungkin akan saya butuhkan nanti, sayangnya ilmu ini tetap untuk mengembat uang negara
dua kali saya menulis mengembat uang negara, bukan, maksud saya bukan korupsi, maksud saya bukan menggelapkan uang negara ataupun memperdagangkan surat utang negara
maksud saya menikmati fasilitas perusahaan yang bisa terwujud karena uang negara, uang yang seharusnya bisa untuk membangun banyak sekolah untuk pendidikan warga negaranya.
maafkan saya, walaupun saya sadar. saya tidak bisa bergerak. mungkin suatu saat nanti